4-22-2, No.14 Persiaran Anggerik Vanilla Kota Kemuning, 40460, Shah Alam
+603-55258877/99
enquiry@tareeqaljannah.com

Badal Haji

Prihatin, Mudah, Profesional

Badal (upah) Haji – (Bagi Yang Uzur atau Telah Meninggal Dunia)

Dalil Hukum Badal Haji

Barangsiapa yang mampu menyambut panggilan haji, kemudian kerana sakit atau lanjut usia tidak dapat melaksanakannya, maka dia diharuskan meminta orang lain untuk menghajikannya. Hal ini berdasarkan hadis yang bermaksud: Imam al-Bukhari meriwayatkan daripada Ibnu Abbas RA : Seorang wanita dari Juhainah datang menemui Rasulullah ﷺ dan berkata: “Sesungguhnya ibuku telah bernazar untuk menunaikan haji, apakah aku perlu menunaikan haji bagi pihaknya?”. Jawab Baginda : “Ya,tunaikanlah haji untuknya. Apa pandangan kamu kalau ibu kamu berhutang, apakah kamu perlu melunaskannya?”. Jawabnya : “Ya”. Sabda Baginda : “Tunaikanlah hutang Allah dan hutang Allah lebih berhak untuk dilunaskan Ini pendapat Imam Syafi’i, Imam Ahmad dan Imam Abu Hanifah. Sementara Imam Malik berkata, “Tidak wajib.”

Apabila seorang yang sakit setelah dihajikan sembuh, maka kewajiban hajinya tidak gugur. Yang bersangkutan wajib mengulanginya. Menurut Imam Ahmad kewajibannya telah gugur. Barangsiapa yang melaksanakan haji nazar sementara dia belum melaksanakan haji Islamnya, maka haji nazarnya itu dibalas sebagai haji Islam dan setelah itu ia harus menunaikan haji nazarnya.

Barangsiapa yang meninggal dunia, belum malaksanakan haji Islam atau haji nazar, maka walinya wajib untuk menunaikan haji tersebut dengan biaya dari harta si mayit. Ini pendapat ulama Syafi’i dan Hambali.

Ulama Hanafi dan Maliki berpendapat, “Ahli waris tidak wajib menghajikan si mayit kecuali jika si mayit mewasiatkannya, maka ia dihajikan dengan biaya tidak lebih dari sepertiga harta warisan.”

Orang yang melaksanakan haji badal disyaratkan sudah melaksanakan haji untuk dirinya baik mampu atau tidak. Hal ini berdasarkan hadis riwayat Ibnu Abbas r.a., Bahwa Rasulullah saw. mendengar seorang laki- laki berkata, “Aku penuhi panggilan-Mu untuk Syabramah.” Rasulullah saw. bertanya, “Apakah engkau telah melaksanakan haji untuk dirimu?” Ia menjawab, “Belum.” Beliau bersabda, “Hajilah untuk dirimu kemudian laksanakan haji untuk Syabramah.”

Syarat Badal Haji Yang Sah

Walaupun syarat badal haji diharuskan tetapi hendaklah menepati syarat-syarat seperti berikut:
– Tidak sah badal haji bagi yang mampu untuk melakukannya sendiri.
– Boleh dilakukan upah haji ini kepada mereka yang sakit tak sembuh, lumpuh atau kepada mereka yang meninggal dunia.
– Badal haji tidak sah kepada orang fakir kerana ketiadaan wang, ia hanya untuk orang yang lumpuh/sakit/tidak berdaya dan tak sembuh dari penyakitnya itu.
– Tidak harus seseorang itu melakukan badal haji kepada orang lain kecuali dia telah menunaikan haji untuk dirinya sendiri.
– Boleh bagi wanita ambil badal haji untuk lelaki dan sebaliknya
– Bila mati seseorang itu dan dia memiliki wang, maka selayaknya dia dihajikan dengan diupah kepada orang lain dengan menggunakan wangnya sama ada dia berwasiat ataupun tidak.

– Sebaiknya badal haji itu dilaksanakan oleh anaknya, kerabatnya dan saudara mara yang terdekat dengannya. Jika dilakukan oleh orang lain, maka hukumnya adalah harus.
– Tidak boleh seseorang yang diwakilkan itu, mewakilkan pula kepada orang lain dengan syarat ia diberitahu kepada pemberi amanah tersebut dan ia bersetuju dengan tindakan itu.
– Perlu diwakilkan atau diupah haji itu kepada seorg yang baik, jujur, amanah dan berilmu untuk melaksanakan badal haji tersebut.

Semoga Allah SWT mengabulkan ibadah Haji yang mabrur kepada orang yang dihajikan, Amiin.

Harga Upah RM2,000 (termasuk)
* Badal Haji * Badal Umrah
* Sijil Badal Haji & Umrah * 1 Zamzam 5 Liter
* 1 x Sejadah